Tuna ekor panjang/Tuna abu-abuLOT

~FL 70 cm

Ciri tubuh:

  • Lunas median besar dengan 2 lunas yang lebih kecil di kedua sisi tangkai ekor
  • 19–27 penyapu insang pada lengkungan insang pertama
  • 8–10 finlet punggung, 7–10 finlet dubur
  • Cuping memiliki 2 flap
  • Tangkai ekor panjang/bentuk tubuh di belakang sirip punggung kedua memanjang
  • Panjang sirip dada pendek hingga sedang, tidak melebihi pangkal sirip punggung kedua
  • Permukaan ventral hati tidak berlurik, lobus kanan memanjang

Warna:

Hitam kebiru-biruan di bagian atas, putih keperakan di bawah dengan baris bintik memanjang putih/perak horizontal di perut, sirip kehijauan dengan tepi abu-abu.

Ukuran:

TL hingga 150 cm dan beratnya hingga 35,9 kg.1

Penyebaran:

Perairan tropis dan bersuhu hangat di Indo–Pasifik Barat.

Lihat peta penyebaran FAO

Habitat:

Zona pelagis dekat pantai, menyukai suhu 26 °C dan ditemukan pada kedalaman dari permukaan hingga 80 m.

Biologi:

Memangsa berbagai ikan, sefalopoda, dan krustasea. Membentuk kelompok besar. Tuna ekor panjang mungkin tumbuh lebih lambat dan hidup lebih lama dari spesies tuna berukuran serupa lainnya.2 Kedewasaan bervariasi berdasarkan lokasi – di Thailand ikan betina dewasa pertama kali pada FL 34 cm, dengan 50% betina dewasa pada FL 39,6 cm. Diperkirakan pertama dewasa di Thailand pada usia 2 tahun.3 Perkiraan usia maksimum, berdasarkan catatan, adalah 4,5 tahun di perairan India,4 10 tahun di Australia,5 dan dapat hidup hingga 18 tahun di Indo-Pasifik bagian tengah.2

Perikanan Indonesia:

Ditangkap oleh jaring insang, pukat cincin, dan pancingan teknik toda.

Spesies serupa:

Thunnus alalunga
Albacore tuna
Thunnus alalunga dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang sangat panjang, memanjang hingga sirip punggung kedua (vs panjangnya sedang, tidak sampai melebihi pangkal sirip punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif sedang dibanding FL (vs panjang); corak tubuh berupa garis putus-putus horizontal hingga miring berwarna putih/perak hanya muncul pada spesimen hidup dalam keadaan stres dan baru saja mati (vs baris bintik-bintik horizontal putih/perak memanjang pada perut); permukaan ventral hati lurik, lobus kira-kira sama panjangnya (vs tidak berlurik, lobus kanan memanjang), dan 25-31 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 19-27).
Thunnus albacares
Tuna sirip kuning
Thunnus albacares
Thunnus albacares dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang panjangnya sedang, melebihi pangkal sirip punggung kedua (vs tidak mencapai pangkal sirip punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif sedang dibanding FL (vs panjang); corak tubuh putih/perak berbentuk garis vertikal berspasi teratur dan garis-garis bintik yang bergantian dalam pola ‘V’ (vs baris bintik-bintik horizontal putih/perak memanjang pada perut), dan 26–34 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 19 –27).
Thunnus maccoyii
Tuna sirip biru selatan
Thunnus maccoyii dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada pendek, tidak melebihi ruang antar sirip punggung (vs panjangnya sedang, tidak mencapai pangkal sirip punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif sedang dibanding FL (vs panjang); bentuk garis vertikal terpecah atau tidak penuh yang berspasi tidak beraturan berwarna putih/perak hanya muncul pada spesimen hidup dalam keadaan stres, jika tidak, maka akan berwarna perak/putih di bagian bawah (vs baris bintik-bintik horizontal putih/perak memanjang pada perut); permukaan ventral hati lurik, lobus kira-kira sama panjangnya (vs tidak berlurik, lobus kanan memanjang); 31–34 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 19-27), dan lunas median kuning pada ikan dewasa (vs hitam).
Thunnus obesus
Tuna mata besar

Thunnus obesus

Thunnus obesus dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang sangat panjang, memanjang hingga sirip punggung kedua (vs panjangnya sedang, tidak sampai melebihi pangkal sirip punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif sedang dibanding FL (vs panjang); corak tubuh putih/perak berupa garis yang berspasi tidak teratur, vertikal, dan seringkali putus-putus (vs baris bintik-bintik horizontal putih/perak memanjang pada perut); permukaan ventral hati lurik, lobus kira-kira sama panjangnya (vs tidak berlurik, lobus kanan memanjang), dan 23–31 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 19–27).
Thunnus orientalis
Tuna sirip biru pasifik
Thunnus orientalis dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada pendek, tidak mencapai ruang antar sirip punggung (vs panjangnya sedang dan tidak mencapai pangkal sirip punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif sedang dibanding FL (vs panjang); corak putih/perak berupa garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian, sebagian besar terbatas pada bagian tubuh bawah (vs baris bintik-bintik horizontal putih/perak memanjang pada perut), dan permukaan ventral hati lurik, lobus kira-kira sama panjangnya (vs tidak berlurik, lobus kanan memanjang).

Tautan eksternal:

Galeri pasar Thunnus tonggol

Tautan eksternal:

FishBase
The IUCN Red List of Threatened SpeciesTM

Referensi

1.
Collette BB, Nauen CE. FAO species catalogue. Volume 2. Scombrids of the world. An annotated and illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species known to date. 1983.
2.
Griffiths SP, Fry GC, Manson FJ, Lou DC. Age and growth of longtail tuna (Thunnus tonggol) in tropical and temperate waters of the central Indo-Pacific. ICES Journal of Marine Science. 2010;67(1):125–34.
3.
Boonragsa V. Tuna resources in the Thai waters, Andaman Sea. Paper presented at the second meeting of the Working Group on Tuna in the Andaman Sea Area. In: Expert Consultation on Stock Assessment of Tunas in the Indian Ocean Colombo (Sri Lanka) 4-8 Dec 1986. 1987.
4.
Abdussamad EM, Koya KP, Ghosh S, Rohit P, Joshi KK, Manojkumar B, et al. Fishery, biology and population characteristics of longtail tuna, Thunnus tonggol (Bleeker, 1851) caught along the Indian coast. Indian Journal of Fisheries. 2012;59(2):7–16.
5.
Wilson M. The biology, ecology and exploitation of longtail tuna, Thunnus tonggol (Bleeker) in Oceania. BSc Masters thesis, Macquarie University. New South Wales. 1981;