AlbakoraALB

Thunnus alalunga
76 cm FL

Ciri-ciri:

  • Lunas bagian tengah besar dengan 2 lunas yang lebih kecil di kedua sisi pangkal ekor
  • 25–31 saringan insang pada lengkung insang pertama
  • 7–9 sirip kecil punggung, 7–8 sirip kecil anal
  • Interpelvic process dengan 2 penutup
  • Lidah dengan 2 tonjolan longitudinal
  • Sirip dada sangat panjang, mencapai sirip punggung kedua
  • Pangkal ekor ramping
  • Permukaan ventral hati lurik, lobus kurang lebih sama panjangnya

Warna:

Biru gelap-hitam di atas mata dengan warna pita biru tipis pada spesimen segar. Panggul dan perut berwarna perak. Sirip punggung pertama berwarna kuning, sirip punggung kedua dan sirip dubur berwarna kuning muda. Sirip dubur gelap, sirip ekor dengan tepi posterior putih.

Ukuran:

Hingga 120 cm TL dan berat 60,3 kg.

Distribusi:

Ditemukan di perairan subtropis circumglobally.

Tampilan peta distribusi FAO

Habitat:

Pelagis dan samudera. Ditemukan dalam suhu berkisar antara 9.5–25.2 ° C dan ditemukan pada kedalaman hingga 600 m dari permukaan .1

Biologi:

Makanannya ikan, cumi-cumi dan krustasea. Bentuk gerombolan besar dengan ukuran tuna yang sama seperti Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tuna sirip kuning (Thunnus albacares), dan Tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii). Panjang saat dewasa adalah 90–94 cm FL untuk betina dan 94–97 cm FL untuk jantan2. Usia kematangan pertama diperkirakan antara 5–7 tahun. 3 Pemijahan terjadi di perairan dengan suhu permukaan laut sekurangnya 24 ° C. Albakora menghasilkan banyak telur dan bertelur setidaknya dua kali per musim. Seekor betina 20 kg dapat menghasilkan antara 2–3 juta telur per periode pemijahan.2 Usia maksimum diperkirakan setidaknya 13 tahun.4

Perikanan Indonesia:

Tertangkap oleh rawai, pukat cincin dan dengan tonda.

Species serupa:

Thunnus albacares
Tuna sirip kuning
Thunnus albacares

Thunnus albacares berbeda memiliki panjang sirip dada yang sedang tidak sampai bagian dasar akhir sirip punggung kedua (vs.. sirip dada yang sangat panjang, memanjang hingga sirip kecil punggung kedua); serangkaian tanda tubuh putih/perak berjarak teratur, garis vertikal dan garis bintik-bintik bergantian dalam pola ‘chevron’ (vs. .tanda tubuh putih/perak horisontal sampai melintang, tidak lengkap ada pada spesimen hidup, dan yang baru mati, tidak ada tanda-tanda pada spesimen yang sudah lama mati); ekor kekuning-kuningan/perak (vs. gelap dengan tepi belakang putih); permukaan ventral hati halus, lobus kanan memanjang (vs. lurik, kira-kira sama panjang lobus) dan 26–34 celah insang pada insang pertama (vs. 25–31).

 

Thunnus maccoyii
Tuna sirip biru selatan

Thunnus maccoyii berbeda memiliki sirip dada pendek, tidak pernah mencapai ruang antara sirip punggung (vs. sangat panjang, memanjang ke sirip kecil punggung kedua); tanda tubuh putih/perak sebagai garis vertikal, tidak bereraturan, sering rusak atau tidak lengkap ada dalam spesimen hidup yang tertekan (vs. putih/perak horisontal untuk garis-garis miring, tidak lengkap ada dalam hidup yang tertekan, dan pada spesimen yang baru mati); 31–34 tulang rusuk insang pada lengkungan insang pertama (vs. 25–31) dan lunas rata-rata kuning pada yang dewasa (vs. gelap).

 

Thunnus obesus
Tuna matabesar
Thunnus obesus
Thunnus obesus berbeda memiliki panjang kepala lebih besar dan lebar (lebih kecil) diameter mata yang lebih besar (vs. lebih kecil) untuk FL yang sama; tubuh dalam dan bundar (vs. ramping dan memanjang); sirip dada sangat panjang, ujung meruncing, fleksibel tipis (pada yang dewasa) (vs. sangat panjang, ujung tumpul membulat) da.n tanda tubuh putih/perak sebagai garis dengan jarak teratur, vertikal, kadang-kadang putus-putus (vs. putih/perak mendatar hingga miring, garis patah-patah pada kondisi yang tertekan, dan spesimen yang baru mati, jika tidak ada tanda).

 

Thunnus orientalis
Tuna sirip biru pasifik
Thunnus orientalis berbeda memiliki sirip dada pendek tidak pernah mencapai ruang antar punggung (vs. sangat panjang, memanjang sampai ke sirip kecil punggung kedua); dan tanda-tanda tubuh putih/perak sebagai garis vertikal dan garis bintik-bintik berselang-seling (vs. putih/perak horisontal menyilang, tidak lengkap ada pada hidup yang tertekanan, dan pada spesimen yang baru mati)..

 

Thunnus tonggol
Tuna ekor panjang
Thunnus tonggol Thunnus tonggol berbeda memiliki sirip dada panjangnya sedang, tidak sampai melampaui dasar sirip punggung kedua (vs. sangat panjang, memanjang ke sirip kecil punggung kedua); bagian belakang tubuh (dari titik terdalam ke batang ekor) relatif panjang terhadap FL (vs. sedang); tanda tubuh sebagai baris horizontal dari bintik-bintik putih/perak memanjang pada perut (vs. putih/perak horisontal melintang, tidak lengkap ada pada hidup yang tertekan, dan pada spesimen yang baru mati); permukaan ventral hati halus dengan lobus kanan memanjang (vs. lurik, lobus kira-kira sama panjang) dan 19-27 (biasanya 26 atau kurang) saringan insang pada lengkungan insang pertama (vs. 25-31). (vs. 25–31).

Tautan eksternal:

FishBase
The IUCN Red List of Threatened SpeciesTM

Referensi

1.
Collette BB, Nauen CE. FAO species catalogue. Volume 2. Scombrids of the world. An annotated and illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species known to date. 1983.
2.
Collette BB, Cole K. Reproduction and development in epipelagic fishes. Reproduction and sexuality in marine fishes: patterns and processes University of California Press, Berkeley. 2010;21–63.
3.
Ramón D, Bailey K. Spawning seasonality of albacore, Thunnus alalunga, in the South Pacific Ocean. Fishery Bulletin. 1996;94(4):724–33.
4.
Lee L-K, Yeh S-Y. Age and growth of South Atlantic albacore–a revision after the revelation of otolith daily ring counts. Collect Vol Sci Pap ICCAT. 2007;60(2):443–56.