Tongkol lisongBLT

BLT
TL 37,5 cm

Ciri tubuh:

  • Lunas median besar dengan 2 lunas yang lebih kecil di kedua sisi tangkai ekor
  • Lidah memiliki 2 tonjolan memanjang
  • Sirip punggung terpisah jauh
  • 10–12 duri sirip punggung
  • 8 finlet punggung, 7 finlet dubur
  • Gigi kecil dan berbentuk kerucut dalam satu baris
  • Cuping tunggal dan besar
  • 43-48 penyapu insang pada lengkungan insang pertama

Warna:

Hitam kebiru-biruan di bagian atas, perak di bagian bawah. Area korselet tanpa sisik yang berisi ~15 garis gelap vertikal di belakang sirip punggung pertama.

Ukuran:

TL hingga 50 cm (lebih kecil dari Auxis thazard) dan beratnya hingga 1,84 kg.1

Penyebaran:

Menyebar luas di perairan hangat.

Lihat peta penyebaran FAO

Habitat:

Zona pelagik dekat pantai, ditemukan pada kedalaman dari permukaan hingga 200 m.

Biologi:

Sebagian besar memakan ikan kecil, terutama clupeidae, dan juga cumi-cumi, krustasea, dan zooplankton seperti kepiting dan larva stomatopoda. Terus bermigrasi dan membentuk kelompok dengan spesies yang sama dan banyak spesies. Kedewasaan bervariasi berdasarkan wilayah, panjang 50% dewasa untuk kedua jenis kelamin, diperkirakan pada FL 24 cm di India dan FL 18,8 cm di Filipina.23 Pertama dewasa di Jepang pada usia 1,25 tahun.4 Auxis rochei melakukan pemijahan beberapa kali yang menghasilkan antara 31.000–162.800 telur per pemijahan tergantung pada ukuran ikan. Telur diletakkan di zona pelagik dan dianggap sebagai bagian penting dari jaring-jaring makanan karena jumlahnya yang sangat banyak. Perkiraan usia maksimum mencapai 5 tahun.5

Perikanan Indonesia:

Tidak ada perikanan khusus untuk Auxis rochei. Auxis rochei ditangkap dengan spesies lain menggunakan jaring angkat, pukat cincin, pukat pantai, pancing gandar, dan pancingan teknik toda.

Spesies serupa:

Auxis thazard
Tongkol balaki
FRI
Auxis thazard dikatakan berbeda karena memiliki ujung posterior yang lebih luas dari korselet selebar 10-15 sisik di bawah pangkal sirip punggung kedua (vs 1-5 sisik); garis pada daerah punggung yang tak bersisik miring hampir horizontal (vs lebih vertikal); daerah punggung yang tak bersisik lebih panjang, memanjang ke bagian depan ujung sirip dada (vs lebih pendek, memanjang ke belakang ujung sirip dada), dan 36-42 penyapu insang pada lengkung insang pertama (vs 43-48).

 

Euthynnus affinis
Tuna makerel
Euthynnus affinis
Euthynnus affinis dikatakan berbeda karena biasanya memiliki ~3 bintik hitam yang ada di antara pangkal sirip dada dan sirip perut (vs tidak ada); ruang antar sirip punggung sempit (vs lebar), dan 29-34 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 43-48).

 

Katsuwonus pelamis
Tuna cakalang
Katsuwonus pelamis
Katsuwonus pelamis dikatakan berbeda karena memiliki 4–6 garis memanjang dan gelap pada perut (vs tidak ada); ruang antar sirip punggung yang sempit (vs lebar); cuping memiliki 2 flap (vs tunggal dan besar), dan 53–63 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 43–48).

 

Sarda orientalis
Bonito bergaris
BIP
Sarda orientalis dikatakan berbeda karena memiliki lidah tanpa tonjolan atau gigi (vs 2 tonjolan memanjang); ruang antar sirip punggung sempit (vs lebar); 5–11 garis-garis hitam sempit di bagian atas (vs ~15 garis hitam vertikal di area korselet yang tidak bersisik), dan 8–13 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 43–48).

 

Thunnus spp.
Tuna sejati
Thunnus albacares
Thunnus spp. dikatakan berbeda karena memiliki cuping dengan 2 flap pendek (vs tunggal dan besar); tubuhnya berlapis sisik kecil di belakang korselet (vs daerah punggung tak bersisik), dan ruang antar sirip punggung sempit (vs lebar).

Referensi

1.
IGFA. IGFA world record game fishes. International Game Fish Association Dania Beach, Florida. 2011;
2.
Collette BB, Cole K. Reproduction and development in epipelagic fishes. Reproduction and sexuality in marine fishes: patterns and processes University of California Press, Berkeley. 2010;21–63.
3.
Muthiah C. Maturation and spawning of Euthynnus affinis, Auxis thazard and Auxis rochei in the Mangalore inshore area during 1979-82. CMFRI Bulletin. 1985;36:71–85.
4.
Niiya Y. Age, growth, maturation and life of bullet tuna Auxis rochei in the Pacific waters off Kochi prefecture [Japan]. Bulletin of the Japanese Society of Scientific Fisheries (Japan). 2001;
5.
Jasmine S, Rohit P, Abdussamad EM, Koya KP, Joshi KK, Kemparaju S, et al. Biology and fishery of the bullet tuna, Auxis rochei (Risso, 1810) in Indian waters. Indian Journal of Fisheries. 2013;60(2):13–20.